Tampilkan postingan dengan label Fokus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fokus. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 Desember 2012

Disdus, Website Daily Deals No 1 di Indonesia

 Ferry Tenka : Bagaimana Saya Membangun Disdus, Website Daily Deals No 1 di Indonesia

Key Quotes :
Karena bagaimanapun juga kita mau membangun sebuah bisnis, bukan membuat website.
Yang menentukan sukses atau tidak itu bukan dari ide, tapi dari execution, the main focus of startup is execution, invest on companies that is focus on execution, not marketing research or game show.
Hardwork sudah tidak usah ditanya ya, karena sampai sekarang pun saya masih cukup sibuk. Sehari kerja 12 jam.
Semakin lama kalian menunggu jadi entrepreneur, semakin lama kalian bekerja sebagai employee, semakin tidak mungkin kalian jadi entrepreneur.
Smart people harusnya create jobs saja. Karena unemployment level di dunia sangat tinggi, we should create jobs.
.
Siapa yang belum pernah melihat iklan online dengan gambar burger dengan tulisan : “Diskon 70-80% ! Setiap hari ! ” Ini adalah artikel tentang biang dari iklan burger tersebut.
Disdus, yang didirikan oleh Ferry Tenka dan Jason Lamuda adalah website daily deals dengan market share 80-85% dan (kabarnya) merajai transaksi klikBCA. Kedua foundernya memiliki keuletan luar biasa dan kemampuan eksekusi hebat.
Beberapa moves mereka membuat saya terkaget-kaget : Pertama kali saya bertemu mereka di April 2010 saat itu mereka bilang sedang membuat Citzel.com – Foursquare-like city review, tiba-tiba pada Agustus 2010 mereka melaunch Disdus -sebuah situs yang memberikan diskon besar, pada akhir 2010 mereka melakukan join promo dengan Kaskus, yang berarti mereka berhasil mengakses (maybe the most) killer online distribution channel di Indonesia, akhir 2010 mereka mendapatkan investasi dari East Venture dan tiba-tiba di April 2011 mereka diakuisisi oleh Groupon “the fastest growing company ever” lalu sepanjang 2011 kita semua menyaksikan perang iklan online antara Disdus dan Living Social yang budgetnya gila-gilaan dan membuat traffic Disdus sampai begini :

Situs Daily Deals seperti Disdus adalah jenis startup tipe sales, yang harus sangat kuat dalam sales operational, dari cara wording dan pitching ke merchant, manage target, building team sampai memberikan motivasi. Tidak heran saat ini Disdus memiliki 140 karyawan yang mayoritas sales. Ferry Tenka (kelahiran 1985) yang saat ini menjabat sebagai CEO Groupon Indonesia membagikan experiencenya saat membangun Disdus, bagaimana ia melakukan pitching “cowboy style” di awal membangunnya dan bagaimana strateginya dalam membesarkan Disdus, sebuah bisnis yang bernilai  - “dua digit-miliar” – dalam dua tahun.

Pengalaman membangun Disdus seperti apa?
Kita membuat Disdus tahun 2010, development mulai Juni-Juli, dan baru launching bulan Agustus. Lalu kita jalan sendiri, sampai kurang lebih bulan November, baru EV (East Venture) masuk ke Disdus. Empat bulan kemudian, tepatnya di bulan April, Groupon acquire kita.
Andrew Darwis (dari Kaskus) itu lebih sebagai silent partner kita. Dia tidak terlibat setiap hari, dia juga tidak bisa dibilang shareholder atau gimana, tapi dia memang support kita. Karena saya dari dulu kenal dengan Andrew. Jadi dia support kita di awal-awal, tapi untuk operation setiap hari tidak terlibat.
Dulu kita pernah disupport awal-awal oleh Kaskus ketika ingin mendapatkan member. Tapi memang business type-nya berbeda. Karena Kaskus lebih ke arah community atau forum. Sementara kalau kita benar-benar sales company atau e-commerce. Jadi modelnya cukup berbeda.
Untungnya, kita berkembang cukup cepat. Kita launch bulan Agustus 2010, di bulan September sudah diapproach oleh EV. Sekitar November-Desember kita sudah cukup dekat dengan EV. Lalu kita di-approach oleh Groupon juga kurang lebih sekitar bulan Februari 2011, dan mulai dekatnya di bulan April 2011.
Jadi waktu itu memang lumayan sibuk juga. Mengurus tentang valuation, lalu ketemu investor, dan segala macamnya itu cukup menjadi pengalaman tersendiri juga untuk kami. Karena waktu itu, saya dan Jason memulai dari nol pada dasarnya. Di mana awalnya kita tidak tahu apa-apa tentang valuation of the company.
Dari sisi ini, menurut saya EV banyak membantu kita juga. Salah satu alasan kita mau bekerja sama dengan EV juga karena Willson itu very easy to work with. Sehingga ketika kita diinvest oleh EV, tidak terlalu susah prosesnya. Menurut saya, jauh lebih mudah dibanding most of venture capital yang ada.
EV sedikit lebih relax. Begitu kita sudah masuk ke EV, Wilson banyak membantu kita dari sisi cara perhitungan valuation, talk to “bigger guy” like Groupon itu gimana caranya. Lalu hal-hal apa saja yang penting agar valuation kita bisa lebih bagus di mata Investor. Kita banyak belajar juga dari EV.
Sebenarnya valuation of the company itu banyak tergantung dari type of VC juga. Kalau seperti Groupon itu kan sales company, atau e-commerce in general. Jadi angkanya simply based on numbers, based on sales dan revenue. Revenue-nya berapa, itu yang akan menentukan valuation of the company-nya berapa.
Di dunia e-commerce itu yang paling penting intinya adalah revenue. Kita harus push revenue sedemikian rupa agar menarik di mata investor. Beda dengan community site seperti Kaskus yang lebih dari sisi membernya. Membernya ada berapa banyak ? komunitasnya hidup atau tidak, yang posting di forumnya setiap hari ada berapa banyak. Itu valuation of kaskus.
Kalau dari kita sebagai e-commerce, mungkin lebih terfokus pada sales. Membernya berapa banyak itu nomer dua, yang penting sales kita tinggi. E-commerce is all about pushing your sales. Di mana cara mendorong sales itu bermacam-macam, bisa dengan kita menjual produk yang harganya lebih mahal, atau mungkin juga kualitas produknya lebih diperbaiki.
Untuk langkah selanjutnya, mungkin dari segi infrastrukturnya, seperti yang saya katakan tadi. Provide a good infrastructure yang bisa membuat customer comfortable belanja di website kita. Infrastructure ini akan mendorong sales nantinya.
Kalau website-website yang kita buat, biasanya push-nya ke sales saja. Dimana websitenya cukup simple sebenernya, tidak ada inovasi konsep yang aneh-aneh. Simple, jual barang saja, tapi gimana kita push penjualannya agar lebih tinggi.
Untuk scale Disdus ini bagaimana?
Jadi waktu kita menjalankan Disdus, website lain di tech industry Indonesia yang sudah experience bigger scale seperti Groupon itu hampir tidak ada. Kita tidak punya banyak tempat nanya. Kita sempat lumayan struggle juga dari sisi infrastruktur, contohnya logistik. Logistic third party yang bisa support e-commerce itu tidak ada di Indonesia.
Customer Service system yang bisa support untuk scale besar juga belum ada saat ini. Jadi segala sistemnya itu basically kita yang harus implemen sendiri dari nol. Karena kalau di Groupon sekarang per Juli 2012 kita ship produk sekitar 2.000 produk sehari.
Kita bekerja sama dengan JNE sekarang, JNE pun agak kewalahan. Karena kita perlu yang cepat. A good customer experience biasanya adalah ketika kita beli hari ini, lalu besoknya dikirim, dan kita bisa langsung tahu bahwa barangnya sudah on the way. Nomer trackingnya nya sekian, tinggal cek tracking di JNE.
Tapi karena kita kirim 2.000 barang sekali drop, JNE menyesuaikan balik ke kita dengan informasi semua nomer tracking itu lama juga. Mungkin sekitar 4-5 hari baru bisa dapat. Jadi harus kita develop infrastructure lagi dari nol.
Seperti misalnya dengan kita mempekerjakan orang di JNE, yang melakukan semuanya khusus untuk kita. Jadi kita punya orang di JNE yang khusus mengurus order kita saja, biar bisa cepat dikirim. Karena biasanya customer suka komplain kalau kelamaan. Jadi infrastrukturnya memang belum siap kesana juga.

Setelah Groupon masuk pada April 2011, ada lesson learnt lain tidak?
Cukup banyak sih. Yang tadi saya pelajari dari sisi EV dan Wilson sejak dia masuk bulan Desember 2010 sampai April 2011. Yang kita pelajari adalah gimana caranya kita bernegosiasi dengan Groupon, mereka bantu push juga. Gimana kita bisa push sales kita supaya valuation kita naik.
Di bulan April, ketika kita sudah dengan Groupon, banyak banget yang kita pelajari. Salah satu hal yang menurut saya paling banyak dipelajari dari Groupon adalah knowledge. Groupon mengajarkan kita yang pertama adalah: fokus.
Ketika pertama kali masuk, banyak banget kompetitor yang join dan masuk ke space yang sama. Intinya kita harus membedakan penjualan kita dari kompetitor, dengan cara kita harus fokus ke satu hal yang menurut kita paling penting.
Banyak yang bisa difokuskan, seperti misalnya online marketing. Kalau kita mau fokus di brand awareness, berarti kita harus invest banyak pada pasang iklan di offline. Mungkin juga kita mau fokus di jumlah member, agar jumlah membernya meningkat. Sementara pada saat itu, fokus yang Disdus pilih adalah quality of deals.
Jadi ketika Groupon masuk, mereka mengatakan bahwa untuk konsep ini yang harus difokuskan adalah quality of deals. Kita invest banyak untuk mengembangkan quality of deals kita. Caranya adalah kita hire banyak orang, untuk screening setiap deal yang masuk.
Intinya adalah di sini kita jualan deals. Kalau ada tim sales yang memberikan deal ke kita, setiap deal ini harus melewati beberapa proses. Harganya sudah cukup bagus atau belum, diskonnya cukup menarik atau tidak, itu semua dianalisa dulu. Dengan diskon segini kira-kira bisa terjual berapa banyak, komisinya sudah cukup besar belum.
Quality of deals itu sangat-sangat penting untuk kita. Jadi itulah yang kita fokuskan. Makanya kalau kita lihat, Groupon tidak terlalu banyak pasang iklan offline. Kita tidak pernah pasang billboard, kita tidak pernah pasang di mall. Kalau online memang banyak. Tapi kalau online secara relative lebih murah harganya daripada offline.
Kita tidak terlalu agresif di offline sebenarnya. Paling hanya 5-10% of our online advertising budget. Tapi fokusnya lebih ke quality of deals. Kita lebih banyak hire tim untuk scan deals, karena kita fokusnya disitu. Kita belajar satu hal bahwa fokus itu penting.
Tentukan dulu bisnisnya seperti apa, hal apa yang perlu difokuskan, dan mau fokusnya gimana caranya, itu yang penting. Itu kita apply bukan cuma ke Groupon saja.
Jadi yang saya pelajari, pertama pilih fokus apa yang mau diambil. Dan pemilihan fokusnya itu juga penting. Jangan sampai salah pilih. Mungkin ada kompetitor kita yang fokusnya ke offline marketing. Banyak sekali exposure brand awareness, tapi ke depannya brand awareness itu kan cukup mahal harganya.
Ke depannya, kalau keuangannya tidak mencukupi, tidak kuat untuk bertahan lama pun bisa jadi berantakan juga. Jadi penting pemilihan fokus kita mau dimana. Dan kalau sudah pilih satu hal yang menurut kita itu yang terbaik, harus fokus disitu.
Itu bukan proses yang cepat. Kita butuh sekitar 4-5 bulan, sebelum apa yang kita invest itu membuahkan hasil. Bisa dilihat, dulu itu market share Disdus di konsep daily deals pada bulan April 2011, paling hanya sekitar 40% market sharenya. Kalau sekarang market share kita sampai 85%.
Kalau based on revenue itu lebih mudah dilihatnya, dari sisi penjualan kita berapa dan berapa harga setiap vouchernya. Jadi, voucher yang terjual berapa banyak, dan harganya berapa, lalu dikali, nanti langsung terlihat revenue kita berapa. Dibanding semua daily deals yang lain, kita take over 80-85% market share. Padahal dulu hanya 40%.
Butuh sekitar 4-5 bulan, sebelum kita bisa mendominasi pasar. Kita mulai mendominasi pasar sekitar bulan November-Desember 2011. Dari yang sebelumnya hanya 40-50% saja. Hal seperti ini tidak bisa langsung jadi. Misalnya kita buat hari ini, lalu besok bisa langsung dapat hasilnya, tidak seperti itu. Persistency dan fokus yang tepat, dalam jangka panjang akan membuahkan hasil akhir.
Livingsocial takes about 15-19% market share di daily deals, tergantung musimnya. Tapi memang sejak Desember tahun lalu, kita take over sekitar 80-85%.

Kalau Groupon itu kan sangat sales based, antara Jason dan Ferry yang handle sales siapa?
Saya sih, saya lebih banyak handle sales on a daily basis.
Jadi, Ferry memang backgroundnya suka jualan ?
Tidak juga sih, sebenarnya background saya Electrical Engineer (Teknik Elektro). Jason pun backgroundnya Chemical Engineer. Jadi kita berdua tidak ada yang punya background sales. Kalau di Groupon itu Jason fokusnya lebih ke analytical, number, angka kita berapa, lalu targetnya apa yang kita raih. Kalau saya lebih ke sisi sales. Manage the sales team, dan push on the team sales-nya untuk mendapatkan promo yang bagus.

Join Groupon Indonesia now ! Semua jebolan Groupon Indonesia langsung jadi Head of Sales di mana-mana :)  - Tweet Ferry Tenka, 31 Mei 2012
Bagaimana cara membangun team sales yang bagus?
Kita belajar banyak juga dari Groupon. Pertama kali melakukan sales team, itu sebenernya saya yang terjun ke lapangan sendiri. Jadi saat tahun 2010, kerjaan saya setiap hari selalu pergi ke mall. Mendatangi setiap merchant, dan minta bertemu dengan marketing manager-nya. Ketika Groupon masuk, Groupon membantu kita membuat sistem yang bagus untuk sales.
Sekarang di Groupon itu sudah ada satu sistem yang kita implementasikan untuk sales team-nya ini. Jadi ada satu sistem, gimana prosesnya dari merchant yang nol, sampai dia itu jadi merchant kita, dan bisa tampil di website kita. Menurut saya di setiap company itu akan beda-beda. Ini satu hal yang Groupon hadirkan ke kita, dan mereka sudah implementasikan di semua negara.
Sebenarnya, sales is all about persistency. Apalagi dengan banyaknya kompetitor sekarang yang masuk di space yang sama. Dan dari Groupon, kelebihannya mereka punya brand image, dan yang kedua, mereka juga support dari sisi sales team kita.
Supportnya berupa training sales. Kita mempersenjatai mereka dengan senjata yang pas, bisa berupa proposal yang bagus, cara berpakaian, cara bicaranya, lalu pitchingnya harus seperti apa ke merchant.
Dan concern dari setiap merchant apa saja, itu sudah kita list down. Ada sekitar 10-12 concern dari setiap merchant. Kita buat dokumennya, ini seperti apa, itu seperti apa, bagaimana menjawabnya, jadi sudah terstruktur banget semuanya.
Kuncinya, menurut saya adalah dari sisi system. Sistemnya harus sudah jelas seperti apa. Dari sisi AE, tim kita itu semuanya fresh graduate. Jadi kita tidak hire AE yang sudah 5 tahun pengalaman, semua AE kita masih fresh graduate.
Ada 2 sales manager yang lebih senior, mereka pun baru 2-3 tahun pengalaman biasanya, sebelumnya kerja di majalah. Jadi boleh dibilang mereka itu masih baru, kita feed mereka dengan “makanan” yang tepat sehingga mereka punya “senjata” yang kuat ketika bertemu merchant.
Sales team kita umurnya dibawah 25 tahun semua. Masih muda semua. Karena fresh graduate biasanya lebih gampang “disuapin”, daripada yang sudah berpengalaman.
Sales ini kan tiap hari ke luar kantor, harus mobile, lalu gimana cara mengaturnya?
Company kita lebih berdasarkan pada hasil, result based. Jadi mereka ada target sendiri yang harus dicapai. Setiap minggu, target itu harus bisa mereka pertanggungjawabkan. Kita tidak ada jam masuk kantor jam berapa, harus pulang jam berapa, tidak ada seperti itu.
Bahkan di sisi operation pun seperti itu. Intinya setiap orang punya kerjaan sendiri, yang penting kerjaan beres, mau kerja jam berapa, mau kerja dimana, bebas. Karena kita kan online, jadi semua bisa diatur lewat internet. Yang penting kerjaan beres, bisa dipertanggungjawabkan, tidak ada masalah.
Ada training motivasi?
Kita belum pernah sampai mengadakan training seperti itu. Biasanya dari saya sendiri yang jadi konduktor. Setiap minggu pasti ada satu kali dimana semua team salesnya itu harus berkumpul, dan kita ada sesi bareng-bareng semuanya. Biasanya saya yang memimpin. Setiap seminggu sekali pasti ada, setiap rabu sore lebih tepatnya.
Jadi itu seperti training. Pertama, biasanya saya berikan training masukan, berdasarkan ketika saya meeting dengan merchant seperti apa, dan ada masukan apa yang bisa saya berikan. Kalau tidak, dari mereka sendiri yang inisiatif sharing ke yang lain.
“Oke, saya kemarin meeting sama starbucks, this is what happen”. Mereka ceritakan meeting sama starbucks kesulitannya dimana, apa yang mereka lakukan. Seperti itu kira-kira.

Sebelum dapat sistem SOP dari Groupon, merchant-nya kan didatangi satu per satu, ada pengalaman apa saja?
Kalau dulu sebelum dengan Groupon, kita lebih coba-coba sistemnya. Jadi konsep Groupon ini memang kita tiru untuk Disdus (sebelum Disdus di pinang Groupon). Berdasarkan apa yang kita tahu, keuntungannya untuk merchant seperti apa, kita lebih mengira-ngira sendiri.
Untungnya, apa yang kita kira-kira sendiri itu 70% mendekati apa yang Groupon memang ajarkan. Tapi lebih banyak coba-coba sih, jadi seperti di-adjust. Banyak hal juga yang kita baru sadari ketika kita meeting dengan merchant.
Awalnya kita pikir “seperti ini”, ketika kita bilang ke merchant, mereka akan memberikan concern. Concern mereka itu mungkin belum kita ketahui sebelumnya. Waktu dulu, banyak hal yang tidak bisa kita jawab. Ketika bertemu merchant, dia memberikan concern ke kita, “kalau begini gimana?”.
Belum bisa kita pikirkan juga saat itu. Karena concern itu pertama kali kami dengar, dan itu terjadi berkali-kali sampai kita adjust lagi. Saya pulang, saya adjust lagi dokumen pitch-nya. Jadi ketika bertemu dengan merchant lain, jangan sampai saya mengulang kesalahan yang sama. Tapi lebih dari sisi coba-coba, trial and error intinya.
Sehari bisa bertemu berapa merchant saat itu?
Saat itu, sehari bisa bertemu 4-5 merchant. Jadi pada saat itu kita ke mall, kita datangi satu-satu. Sekarang sih beda. Kalau sekarang mereka telepon dulu, kita buat meeting, dan ditargetkan sehari bisa 3-4 meeting. Sudah sedikit beda, lewat telepon, lebih efisien. Kalau jaman dulu kan lebih “cowboy style”, main “hajar” aja ke mall.
Sistem partnership seperti apa yang dilakukan di Disdus, sepenting apa, dan pengalamannya bagaimana?
Sejauh ini kita belum terlalu aktif partnership ke selain merchant. Sekarang ada 2 macam merchant yang kerja sama dengan kita. Pertama, merchant yang biasa, seperti restoran dan spa. Kerja sama dengan mereka, mereka menawarkan service-nya ke kita dengan harga diskon, lalu kita jual.
Dengan penjualan itu, kita ambil komisi penjualan. Yang kedua adalah brand, contohnya yang kerja sama dengan kita sekarang adalah Futami Seventeen Green tea. Itu kan produk baru, mereka mau launch produk ini, biasanya promo mereka dikaitkan dengan salah satu merchant.
Seperti yang sekarang terjadi adalah Krispy Kreme. Mereka sedang promo, mereka memberikan diskon 50%, plus setiap orang yang membeli Krispy Kreme akan mendapatkan satu botol Futami. Jadi promonya dikaitkan dengan merchant. Seperti sampling tapi dengan diskon dari merchant juga. Sehingga merchant lebih tertarik. Sebagai customer juga mereka tertarik untuk mencoba.
Ada juga yang seperti dulu, Futami pernah kerja sama di promonya Snowbay. Jadi kalau membeli tiket Snowbay, bisa dapat Futami juga. Kurang lebih seperti itu sekarang partnershipnya. Belum banyak partnership yang di luar itu, untuk sekarang ini. Paling ada waktu itu sama YCAB (Yayasan Cinta Anak Bangsa). Lebih untuk CSR kalau itu.
Bagaimana sebenarnya insight tentang industri “perdiskonan”? Kenapa industri ini sekarang jadi besar?
Menurut saya daily deals ini konsepnya dari pertama memang bagus. Karena dari sisi merchant, juga tidak rugi. Dari sisi customer, sudah jelas, siapa yang tidak mau dapat diskon? Harga lebih murah, service sama, dapat barang yang sama, tapi harga diskon. Kebanyakan yang disorot lebih dari sisi merchant, kenapa merchant mau?
Padahal yang pertama, mereka harus memberikan diskon 50% atau lebih. Selain itu, mereka harus memberikan komisi lagi ke kita. Rata-rata kita minta ke mereka diskon 70-80%. Kelihatannya mereka rugi kan?
Tapi kalau dilihat lagi, sebenarnya kebanyakan bisnis yang kita approach adalah service business. Di mana yang mereka lakukan tidak terlalu merugikan, karena mereka sudah mendapat margin yang besar. Seperti fresh orange atau starbucks, mereka itu marginnya memang besar, bisa sekitar 70% untungnya. Itu yang kita minta sebenarnya.
Dan yang lebih kita lihat dari sisi activation. Sebagai suatu restoran, buat mereka, untuk mengakusisi satu customer agar datang ke restoran mereka dan mencoba makanan mereka, itu yang paling mahal biasanya. Sekali customer mencoba, kalau mereka suka, kemungkinan besar akan balik lagi. Itu gampang balik lagi, asalkan makanannya enak dan customer suka.
Yang susah adalah gimana mengubah mindset orang, yang tadinya ini adalah restoran baru, mereka belum pernah mencoba, jadinya mereka mau datang dan mencoba. Itu kan yang mahal sebenarnya.
Makanya biarpun diskon yang mereka berikan cukup besar, tapi kita bisa mengaktivasi banyak customer baru. Jadi untuk merchant pun tidak rugi, karena diskon kita ini hanya sekali pakai. Biasanya orang beli sekali, dia pakai sekali, selanjutnya mereka datang dengan harga normal.
Agak beda dengan diskon kartu kredit. Kalau diskon kartu kredit kan biasanya ada jangka waktunya, misalnya 2 bulan. Jadi selama 2 bulan itu ada diskon, orang-orang akan tetap kesana. Setelah 2 bulan mereka sudah bosan, mereka tidak akan kesana lagi.
Sementara di kita biasanya orang-orang hanya beli satu, pakai sekali, sudah selesai. Selanjutnya mereka akan balik lagi, tapi sudah tidak ada vouchernya. Jadi konsep ini sebenarnya menguntungkan juga untuk merchant. Makanya selama merchant masih perlu activation, menurut saya konsep ini akan tetap hidup.
Selama hampir 2 tahun menjalankan bisnis, advice seperti apa yang menurut Ferry penting? Advice dari teman, mentor, atau siapapun.
Dari apa yang saya pelajari, menurut saya, yang paling penting untuk startup sebenarnya, sebagai startup yang mau berkembang di Indonesia, kalau mau berkembang itu sudah mulai dipikirkan monetization-nya.
Karena saya sering datang ke beberapa seminar, dan banyak yang sharing dengan beranggapan bahwa startup Indonesia itu cukup idealis orang-orangnya. Dari sisi, “saya mau mengembangkan satu konsep, dimana konsep ini monetize-nya masih belum jelas.”
Tapi konsepnya memang bagus, konsepnya menarik. Menurut saya, kalau customer tahu, mereka bakal mau coba, tapi monetize-nya masih belum jelas. Itu yang menurut saya agak mengkhawatirkan. Karena monetize itu penting di startup Indonesia.
Planning ke sisi monetization itu penting, karena bagaimanapun juga kita mau membuat bisnis kan, bukan membuat website. Jadi secara financially, bisnisnya itu mau dibawa kemana, itu sangat penting. Ini satu hal yang saya pelajari setelah EV masuk dan Groupon masuk.
Saat itu, ketika saya membuat citzel.com (project Ferry dan Jason sebelum Disdus), kita cukup idealis juga tipenya. “Oh foursquare lagi hype nih di US”, meskipun foursquare saja masih belum jelas monetize-nya darimana. Twitter juga masih belum tahu, tapi karena menurut kita konsepnya bagus, makanya kita buat saja. Karena kita masih cukup idealis.
Tapi dengan sekarang saya sudah belajar banyak, jadi makin terbuka. Di mana kalau kita ingin membuat suatu bisnis, monetize ini penting. Bukannya menakut-nakuti, tapi suatu saat itu akan datang ketika kalian butuh uang untuk membuat bisnis itu tetap jalan ke depannya.
Monetize ini bukan berarti bisnisnya harus untung, bukan seperti itu. Tapi bisa cari investasi misalnya. Kita bisa get to certain milestone, dimana milestone itu memang bisa menarik orang buat invest di kita.
Saya ambil contoh, misalnya e-commerce. E-commerce itu perlu investasi yang cukup lama sebelum bisa break even point, atau profitable company-nya.
Seperti contohnya Amazon. Amazon itu butuh waktu sekitar 9-11 tahun sebelum mereka profitable. Mereka sempat rugi sekitar 3 Milyar dollar, sebelum akhirnya mereka bisa break even, dan sekarang bisa untung company-nya. Tapi mereka selalu rugi selama 9 tahun itu yang mau tidak mau butuh investment.
Jadi memang e-commerce itu perlu planning. Kita kuat atau tidak dengan dana kita atau dengan investasi yang ada? Atau ketika kita mendapat investor lagi, seberapa kuat kita bisa “bernafas” dengan dana investor sekarang sebelum kita bisa untung? Karena bagaimana pun, itu penting untuk sebuah company.
Di situlah yang ingin saya tekankan. Itu sangat penting karena ke depannya kalau saya mau membuat yang baru lagi sekalipun, itu yang akan saya pikirkan dari pertama. Karena biasanya, investor tertarik pada banyak hal.
Bukan hanya sekedar company-nya bisa untung saja, tapi bisa scale juga. Kalau e-commerce misalnya membuat infrastruktur yang bagus untuk e-commerce ke depannya. Itu juga bisa menjadi sesuatu yang menjual untuk investor.

Sampai sekarang pun saya masih cukup sibuk. Sehari kerja 12 jam. Tapi hardwork bukan berarti “you don’t have a life” juga
Apakah Ferry tipe orang yang hardwork? Pandangan Ferry tentang “hardwork” seperti apa?
Kalau hardwork sudah pasti. Kebanyakan orang-orang mengatakan “you have to work smart”, tapi sebenarnya “you have to work smart and work hard” juga penting menurut saya. Hardwork sudah tidak usah ditanya ya, karena sampai sekarang pun saya masih cukup sibuk. Sehari kerja 12 jam.
Kalau sabtu-minggu saya usahakan tidak bekerja, tapi kadang-kadang masih. Karena hardwork bukan berarti “you don’t have a life” juga. Biasanya saya kerja fulltime, sekitar 12-14 jam saat weekdays, tapi weekend tidak.
Kecuali waktu awal-awal membangun startup, itu sampai satu minggu penuh harus kerja. Setidaknya hari sabtu pasti kerja. Karena keluarga saya sebenarnya di Bandung, jadi kadang menghabiskan waktu di Bandung juga. Lebih suka kerja kalau di Bandung.
Jadi sekarang saya kalau bisa sabtu-minggu pulang. Kalau dulu, paling hari Minggu saja pulangnya, karena Sabtu masih kerja. Seperti itu kurang lebih selama 6 bulan pertama.
Dulu kita feature deal Groupon Disdus itu, 3 hari 1 deal saat pertama kali launch. Lalu jalan satu sampai dua bulan, menjadi 2 hari 1 deal. Ketika EV masuk, baru mulai 1 hari 1 deal. Saat itu masih cukup struggling.
Ada kasus di mana ketika sudah jam 9 malam, saya masih tidak tahu jam 12 malam nanti mau diganti deal apa. Akhirnya meeting dengan team, punya deal apa yang bagus. Sampai jam 12 malam masih membuat editorialnya. Lalu jam 11.59, baru di enter editorial yang terakhir itu. But, it’s a good experience. Ketika lihat ke belakang, rasanya jadi suatu exciting experience juga.
Kalau sekarang, kita sehari sudah punya 9 deal. Jadi terlihat kan bedanya. Itulah alasannya kenapa Disdus bisa jadi market leader. karena sehari kita punya 9 deal. 5 yang biasa, seperti hotel, restoran, dan sebagainya. 4 lainnya barang-barang berupa produk, seperti gadget, kosmetik, dan sebagainya.
Jadi kita punya 9 deal dalam sehari. Yang paling dekat dengan kita mungkin living social, mereka punya sekitar 3-4 deal per hari.
Tapi menurut saya pribadi, startup environment is very exciting. Kalau Groupon sekarang sudah makin besar. Kita punya sekitar 140 orang timnya di Indonesia. Di jakarta ada sekitar 100 orang, di Bandung ada 15 orang, Surabaya juga ada 15 orang, di Bali ada 4 orang.
Jadi culture of the company sudah agak beda juga. We are moving towards corporate, corporate type of company. Di mana kita sudah tidak tahu orang di bawah kita itu namanya siapa. Startup itu kan ketika timnya masih 20 orang. Kita tahu setiap orang di company tersebut. Kita bekerja sebagai satu tim. Sangat exciting lah.

Apa passion Ferry sebenarnya?
Sebenarnya saya dan Jason passionate about online business. Kita berdua dari US, kuliahnya di US. Ketika di US kita pakai website setiap hari dalam kegiatan sehari-hari. Kita di depan komputer hampir 24 jam, sering banget di depan komputer.
Karena di US memang segala hal dilakukan di website. Kalau mau beli barang apapun carinya di website. Waktu di US, kita sering lihat startup-startup. Dari sisi lifestyle saja, mau beli laptop, beli kebutuhan sehari-hari, beli makan, atau apapun, saya ke website dulu baru cari outlet.
Kalau di Indonesia berbeda kan. Kalau mau beli gadget tidak cari online dulu, tapi cari ke ITC mungkin, atau ke toko handphone. Jadi beda mindset-nya. Sedangkan di US, kalau mau cari barang online, pasti ke website dulu pertama kali mindset-nya. Kalau tidak ada, mungkin baru pergi ke retail store. Tapi kalau di Indonesia tidak.
Dan yang seperti itu justru convenience menurut kita. Karena dengan mengklik tombolnya, kita bisa dapat apa yang kita mau. Itulah sesuatu yang kita passionate agar kita dapat melihat yang seperti itu di Indonesia.
Meskipun background kita bukan dari IT. Tapi untuk melihat itu terjadi di Indonesia, itu adalah sesuatu yang masih kita tunggu untuk terjadi pada 4-5 tahun mendatang.
Saat itu Citzel kenapa dibatalkan?
Karena salah satu alasan terbesarnya adalah kita lebih idealis dulu. Passion punya website, ketemu konsep yang bagus, lalu kita coba buat. Tapi ternyata tidak terlalu mendapat banyak interest dari masyarakat.
Yang pertama, visitornya belum terlalu banyak pada saat itu. Kedua, monetization modelnya masih belum jelas. Sudah jalan sekitar 3-4 bulan, kita masih struggle. Monetizenya dari mana ya? Masih belum terlalu kepikiran.
Ketiga, waktu kita memulai bisnis juga, kita pikir itu bisa sedikit in line sama Citzel. Karena tadinya citzel mau kita push untuk local business. Tadinya kita pikir Citzel itu monetizenya gini, setelah banyak yang pakai, banyak review, kita bisa approach banyak merchant di offline.
Lalu kita pikir Groupon pun juga seperti itu, kita approach offline merchant untuk beriklan di website tanpa ada biaya apapun. Jadi merchant yang saya tampilkan di Disdus, bisa saya ajak kerja sama juga di citzel.
Akhirnya kami launch juga Disdus. Tadinya agak bingung juga monetize Disdus bagaimana. Ternyata setelah Disdus launch, banyak banget yang tertarik dengan Disdus. Jadi semua tim difokuskan di Disdus. Karena pada saat itu tim kita masih kecil. Waktu launch itu timnya cuma berlima, ada saya, Jason, dan 3 orang lagi. Yang 2 itu di bagian IT, mereka develop websitenya.
Karena masih sedikit, resource-nya terbatas, jadi saya fokuskan di sesuatu yang kelihatannya lebih menghasilkan saja. Kita juga profitable-nya baru pada awal tahun 2012, di mana kita mulainya Agustus 2010. Setiap bulan di 2012, profit kita sudah bisa plus. Jadi, revenue minus expense itu hasilnya plus.
Sekarang sih sudah ke-cover, sudah melebihi apa yang kita sisihkan kemarin. Tapi kita melihat profitable dari sisi expense kita bisa di-cover oleh revenue. Mulai dari expense salary, marketing, office, segala macem, itu bisa di-cover sama revenue kita.
Kita mulai profitable bulan Desember. Tapi kalau dihitung sampai sekarang sih sudah balik modal semuanya, dari invest segala macem.

 Online itu related to customer acquisition, offline itu untuk brand awareness
Bagaimana strategi marketing yang diterapkan?
Strategi marketing kita sebenarnya cukup simple. Orang lihat banner kita, diklik, nanti akan masuk ke landing page, bukan halaman Disdus. Di landing page itu ada gambar burger diskon 70%, mereka tinggal masukkan emailnya. Database email di Disdus sudah 1,5 juta-an per Juli 2012.
Setelah itu, mereka akan masuk ke satu website dimana ada deal-deal kita, lalu nanti bisa dipilih deal-nya dari situ. Berdasarkan pilihan yang dibuat, kita bisa tahu kira-kira orang ini tertariknya dengan tipe apa.
Misalnya dengan tipe food and beverages, atau promo beauty and wellness. Tergantung pembelian biasanya, dia paling banyak belinya di kategori apa.
Berarti yang berkontribusi ke database cukup besar memang online marketing? Ya!
Kita menghabiskan dana cukup banyak di online marketing, daripada di offline. Karena offline sama online berbeda. Online itu related to customer acquisition. Karena customer tinggal memasukkan emailnya, lalu bisa jadi customer kita. Kalau offline itu lebih ke brand awareness.
Saya pikir yang paling efektif itu facebook Ads dan google Adwords, atau google display ads juga. Kalau facebook Ads diarahkannya ke landing page website kita, tidak ke fanpage facebook.
Cara menggunakan Facebook Ads dan Google Adwords yang efektif seperti apa?
Sebenarnya untuk hal ini ada tutorial lagi yang cukup advance. Kalau di facebook itu kelebihannya bisa ditargetkan. Misalnya iklan ini cuma bisa ditampilkan ke cowok, umurnya sekian sampai sekian, tinggalnya di Jakarta aja, pernah like starbucks misalnya, atau apa-apa itu bisa ditargetkan.
Jadi sangat efektif. Karena saya bisa targetkan kalau saya mau pasang display ads yang gambarnya kopi dengan diskon 70%. Saya mau gambar ini ditampilkan ke orang-orang yang berumur 20-35 tahun, yang pernah like starbucks, yang pernah like coffebean juga mungkin. Intinya, gambar dan target kita bisa disesuaikan.
Jadi, kemungkinan orang yang melihat iklan kita itu orang yang suka hal seperti ini. Cost per click-nya jadi sangat efektif. Satu hal lagi, kita selalu pakai iklan dengan sistem “cost per click”. Kita tidak pernah pasang iklan dengan tipe banner di yahoo misalnya. Kalau banner seperti di yahoo atau Kaskus itu kan rate-nya per hari. Sementara kita maunya selalu yang cost per click.

“Sesusah apa sih membuat website? Bisa lah belajar kilat !”. Setelah sebulan kursusnya berjalan, “shit ! it doesn’t work! coding ternyata susah juga.”
Bagaimana cerita awal Ferry dan Jason bertemu dan mendirikan Citzel dan kemudian Disdus?
Saya dan Jason sebenarnya dari tempat kuliah yang sama. Setelah lulus kuliah, saya langsung kerja di Sandisk selama 3 tahun. Jason kuliah lagi, mengambil Master di Columbia. Lalu dia balik kesini kerja di McKinsey Indonesia.
Setelah saya 3 tahun kerja, dia juga sudah 1,5 tahun kerja di McKinsey, dia sempat menghubungi saya. Dia tanya ke saya, “Plan ke depannya seperti apa? Tertarik gak kalau kita membangun startup di Indonesia?.”
Dan saat itu juga, saya sudah tertarik untuk keluar dari company dan ingin membuka sesuatu. Tadinya mau buka startupnya di US, tapi karena ada kesempatan di Indonesia menurut saya, akhirnya saya pulang ke Indonesia.
Kita bareng-bareng membuat startup. Pertama kali, kita buat tahun 2010. Saya balik ke Indonesia bulan Desember 2009. Dan awal tahun 2010 kita mulai buat Citzel. It was interesting.
Karena kita berdua tidak punya background sales,
tidak punya pengalaman bisnis,
tidak bisa coding juga.
Dulu kita pernah mengambil kelas coding di Binus Center, bukan kuliahnya tapi seperti kursus kilatnya. Selama 3 bulan atau 1,5 bulan kita ambil kursus coding itu, seminggu 2 kali, dengan durasi 3 jam setiap pertemuan.
Karena pada saat itu kita pikir, “Sesusah apa sih membuat website? Bisa lah belajar kilat !”. Setelah sebulan kursusnya berjalan, “shit ! it doesn’t work! coding ternyata susah juga.”
Kita baru sadar tidak semudah itu membuat website. Ini bukan sesuatu yang bisa kita pelajari dalam waktu sebulan.
Lalu kita pikir lagi, akhirnya kita putuskan untuk mengajak orang lain. Jadi employee pertama yang kita hire itu guru kita sendiri, guru yang mengajar kursus di Binus itu. Gurunya masih muda, bahkan lebih muda dari saya. Pada saat itu usia saya sudah 25 tahun, guru kita itu paling baru 21-22 tahun, tapi jago programming-nya. I think this guy is good.
Ya sudah kita ajak saja. Kita share ide kita, lalu mengajak dia join, dan ternyata dia tertarik untuk join. Saat itu masih part-time basis, dia tidak full-time di kita. Lalu kita hire lagi satu programmer yang lebih junior dari dia, tapi dia lebih seperti mentornya. Kalau sekarang, dia sudah fulltime dengan kita.
Dulu kita cukup enggan untuk share ide kita, karena takut idenya akan dicuri. Saat itu kita pikir, “kalau saya share ide ke dia, nanti idenya dicuri sama dia”. Jadi kita lebih pelit saat itu. Tapi, setelah kita move on, saya baru lihat, selama kalian share ide tersebut, ide itu malah jadi semakin bagus.
Karena pada akhirnya, yang menentukan sukses atau tidak itu bukan dari ide, tapi dari execution. Kalau sama-sama punya ide tapi cara eksekusinya beda, hasilnya juga akan beda. Jadi, sebenarnya lebih baik untuk share ide kita ke orang-orang, karena ketika kalian share ide tersebut, akan kelihatan challenge-challengenya apa saja. Dan kita bisa re-shape ide tersebut.
Dulu saya sempat berpikir juga, “Saya share atau tidak ya ide ini ke guru saya? Nanti kalau dicuri idenya gimana ya?” Tapi karena kita sudah lumayan stuck saat itu, jadi ya sudah, kita share ide tersebut, dan untungnya dia tertarik untuk join. So, we went through that kind of process.
Saya ingat ketika bulan Februari 2010 sampai Maret 2010 mengambil kelas kursus coding. Dan di bulan Maret kita sadar bahwa tidak akan bisa belajar coding hanya dalam sebulan. Akhirnya kita hire orang lain. Sebenarnya citzel sudah launch di bulan April 2010. Setelah lama berjalan tapi tidak juga membuahkan hasil, akhirnya kita coba Disdus juga.
Bisa ceritakan tentang BerryBenka?
Berry Benka itu sebenarnya lebih ke side project kita. Dulu Claudia Widjaja, pacarnya Jason (co founder Disdus), yang sekarang sebagai owner, bekerja di salah satu fashion company di Indonesia. Dia memang merchandiser, dan punya good passion dari sisi fashion.
Dia suka fashion, dan dia punya fashion taste yang cukup bagus menurut kita, banyak orang yang suka juga dengan fashion taste dia. Jadi kita pikir kenapa tidak coba mengembangkan website fashion?
Karena pada tahun 2011 kemarin juga belum terlalu banyak website fashion. Banyaknya paling Facebook shop. Belum ada website fashion yang benar-benar credible. Jadi iseng-iseng saja kita coba buat. Dulu mulainya juga cuma bertiga timnya. Pacarnya Jason dan 2 orang lagi.
Saya dan Jason tidak terlalu fokus di kegiatan sehari-hari di sana. Cuma lebih sebagai advisor saja. Tapi lama-lama karena kelihatannya bisnis itu semakin berkembang, kita mulai menghabiskan banyak waktu di situ juga.
Awal tahun ini, kita juga sampai diinvest oleh East Venture. Karena makin berkembang dan kelihatannya ada potensi untuk dikembangkan, make it a real business. East Venture tertarik, kita butuh resource untuk hire lebih banyak juga. Sekarang sudah ada sekitar 30 orang di timnya. Sekarang kantornya di Green Garden, tapi mungkin akan pindah.
Kalau kita lihat dari sisi e-commerce, e-commerce itu benar-benar perlu capital yang lumayan banyak. Karena dari infrastrukturnya, lalu kadang-kadang inventory juga. Yang seperti itu memang perlu capital yang cukup banyak.

Semakin lama kalian menunggu, semakin lama kalian bekerja sebagai employee, semakin tidak mungkin kalian jadi entrepreneur

Apa pesan yang ingin disampaikan untuk para startup?
Sebagai seorang entrepreneur, bagus untuk kalian mencoba jadi entrepreneur itu. Yang paling penting untuk menjadi entrepreneur itu apa sih menurut kalian? Menurut saya keberanian adalah hal terpenting, lebih dari skill, lebih dari capital, lebih dari sekedar marketnya ada atau tidak.
Biasanya kebanyakan orang yang ingin menjadi entrepreneur, mereka akan berpikir “Nanti deh, saya kerja dulu aja. Belajar dulu, cari pengalaman, cari network. Nanti mungkin 5 tahun lagi saya baru jadi entrepreneur”.
Tapi itu hal yang salah sebenarnya.
Karena semakin lama kalian menunggu, semakin lama kalian bekerja sebagai employee, semakin tidak mungkin kalian jadi entrepreneur. Karena 5 tahun dari sekarang pasti gajinya sudah makin besar dong? Makin susah buat kalian untuk keluar dari kerjaan tersebut.
“Aduh saya mau keluar dari company ini, tapi gaji saya udah segini”. Opportunity cost yang hilang akan semakin besar. Apa skill di perkerjaannya akan related ke bisnis kalian? Belum tentu juga. Kalau kalian coba menjalankan bisnis, pasti nanti akan belajar lagi dari nol.
Harus bisa menyesuaikan, harus fleksibel juga. Yang paling penting jadi entrepreneur itu fleksibel. Kalau yang ini tidak jalan, harus berani coba yang lain. Jadi, keberanian itu penting.
Apa planning Ferry untuk ke depannya?
Ke depannya, saya mau mengajak lebih banyak orang untuk jadi entrepreneur. Kenapa? Karena simply, menurut saya di Indonesia, “people are not supposed to look for job, people are supposed to create jobs”. Apalagi yang lulusan kuliahan, smart people harusnya create jobs saja. Karena unemployment level di dunia sangat tinggi, we should create jobs.
Saya dan Jason sempat share bahwa kita tertarik untuk membuat semacam incubator or something, yang bisa menarik lebih banyak orang untuk menjadi entrepreneur. But it’s still a longer vision. Mungkin baru 3-5 tahun ke depan. Sekarang ini kita sudah mulai mengajak teman-teman untuk keluar dari pekerjaannya, dan jadi entrepreneur saja.
Karena sejujurnya menurut saya, di dunia online itu peluangnya amat sangat besar. Banyak hal yang belum diekspose oleh banyak orang. Kita sempat share dengan orang yang bekerja di Bank, “Ngapain kerja? Coba jadi entrepreneur aja”.
Apalagi untuk online ini sekarang sudah banyak banget investor yang ingin berinvestasi di Indonesia. Bagusnya untuk Indonesia juga, kalau mereka invest di Indonesia, uangnya dihabiskan disini kan. We need those. Saya harap ke depannya juga pemerintah lebih support untuk para pebisnis startup seperti ini.
Karena beberapa kendala yang pernah kita hadapi, seperti membuat PT disini bisa sangat lama, butuh waktu sekitar 2-3 bulan untuk membuat PT, tidak masuk akal kan? Dari PT mau jadi PMA, butuh waktu beberapa bulan, butuh biaya lagi juga. Mau membuat bank account butuh waktu sebulan. Regulasi-regulasi seperti itu yang menurut saya perlu dipermudah.
Kalau kita sebagai entrepreneur mau membuat bisnis, tapi malah terhambat dengan yang seperti ini, sebenarnya jadi menambah beban masalah yang tidak perlu kan? Saya sangat berharap, ke depannya pemerintah bisa lebih suportif.

Senin, 17 Desember 2012

Andrew Mason, Founder Groupon Tentang Bagaimana Menjadi Kaya

Founder dan juga CEO Groupon, Andrew Mason mengungkapkan enam tips darinya untuk menciptakan sebuah startup yang sukses, atau dalam kata yang disebutkan Andrew, “polishing your turds and getting super rich”  alias  ”poleslah kotoran Anda dan menjadi kaya”,  pada sebuah event oleh YCombinator’s Startup School di Universitas Stanford.

Groupon adalah salah satu startup yang paling hot di dunia dalam beberapa tahun terakhir. Hanya dalam kurun waktu dua tahun, Groupon telah menciptakan fenomena di dunia dengan konsep collective group buying, bertumbuh dengan 1.600 karyawan dan meningkatkan nilai jual Groupon menjadi lebih dari 1 Milliar US dolar, seakan Groupon dan timnya memang ditakdirkan untuk menjadi sedemikian hebat.

Kenyataannya, perjalanan yang ditempuh menuju kesuksesan Groupon mengalami banyak rintangan dan kesalahan. Andrew juga mengungkapkan cerita Groupon bertumbuh sebagai perusahaan gagal yang berusaha melakukan terlalu banyak hal dalam satu waktu.

Pada tahun 2007, Andrew memulai sebuah perusahaan yang bernama ThePoint, sebuah platform yang memungkinkan user untuk membuat kampanye untuk mengumpulkan donasi. Disini Anda berjanji untuk menaruh uang Anda dan menyiapkan kartu kredit Anda, namun Anda tidak memberikan donasi tersebut sampai Anda menyentuh “tipping point” suatu titik dimana sejumlah orang bergabung dalam kampanye tersebut atau suatu jumlah finansial tertentu.
Andrew menyukai visi yang melatar-belakangi ThePoint, yang mana menjadi suatu penyelesaian masalah yang melibatkan aksi kolektif atau sekelompok orang. Dia pikir platform seperti ini memampukan orang-orang untuk melakukan perubahan nyata yang hanya dapat terjadi dengan aksi kolektif yang salah satunya dengan membuat kampanye amal.

Untuk mencoba membuktikan kekuatan potensial dari ThePoint, Andrew memulai sebuah blog kecil-kecilan di WordPress yang bernama “Groupon” pada musim gugur tahun 2008, dengan didukung oleh sebuah widget dari ThePoint yang menyediakan penawaran setiap harinya. Pada musim panas 2009, Groupon justru secara signifikan menyita waktu dan sumberdaya lebih banyak daripada ThePoint.

Sementara ThePoint tidak mendapatkan momentumnya, Groupon justru terus meroket. Sesungguhnya apa yang terjadi? Andrew memiliki 6 (enam) alasan mengapa Groupon sukses dan ThePoint sebaliknya. Dan yang lebih penting, keenam poin ini adalah nasihat dari Andrew yang dapat menginspirasi entrepreneur yang sedang mencoba membangun bisnis.

  1. Anda sedang membangun sebuah alat, bukan suatu karya seni. Andrew menyarankan agar Anda tidak buta oleh visi, seperti yang ia lakukan dengan ThePoint. Groupon telah melakukan kebalikannya secara keseluruhan, sangat fokus untuk mendapatkan pelanggan sejak detik pertamanya.
  2. Pahami batasan diri Anda, namun cobalah menerobosnya.
  3. Anda harus meiliki rencana untuk terus bertumbuh.
  4. Tools atau alat yang terbaik tidak selalu terlihat cool. Groupon memilih e-mail karena sederhana dan bersifat universal (mendunia).
  5. Anda mungkin gagal, namun Andrew menyarankan Anda untuk memiliki ketakutan akan kegagalan tersebut di pikiran Anda karena hal itu akan membantu Anda menghadapi kenyataan dan memoles keputusan Anda dalam membangun produk yang layak dijual ke pasar.
  6. Tahu kapan Anda harus berhenti. Terkadang Anda harus melepaskan ide yang buruk.

Mashable

Minggu, 18 November 2012

Belajar dari Handy Chang Bagaimana Membesarkan usaha

Belajar Bagaimana Handy Chang membesarkan Rumah dan properti, menjualnya kepada iProperty dan kini membangun Indotrading

 

Karena keinginan saya yang kuat sekali untuk mengalahkan Rumah123, saya kerja tidak mengenal waktu, termasuk Sabtu dan Minggu. Passion saya sendiri sebenarnya di traffic. Saya sangat suka untuk mengembangkan portal. iProperty juga perusahaan Tbk, ketika mereka melakukan akuisisi rumah123 dan rumahdanproperti dengan harga fantastis, sharenya malah naik, karena investor senang, mereka masuk indonesian market
Kalau kamu post di Facebook dan Twitter, postingan kamu akan tertimpa post lainnya, beda dengan SEO yang bersifat permanen.

Handy Chang  adalah founder Indotrading.com yang merupakan portal yang memiliki visi membantu UKM bukan hanya berjualan untuk market Indonesia saja tetapi juga market luar negeri. Handy ternyata memiliki cerita tidak hanya tentang Indotrading, tetapi Ia juga founder RumahdanProperti.com yang diakuisisi oleh iProperty. Akuisisi ini juga bersamaan dengan akuisisi Rumah123 milik Saratoga Group oleh pihak yang sama pada pertengahan 2011.

Di artikel ini Handy membagi tentang apa diferensiasi dari Indotrading dibandingkan pemain lainnya dan bagaimana Indotrading bisa membantu UKM untuk memasarkan produk, termasuk bagaimana ia membangun rumahdanproperty dari nol, membesarkannya selama setahun kemudian menjualnya kepada iProperty, apa yang membuat iProperty tertarik untuk membeli startupnya dan apa saja kesalahannya dalam membangun rumahdanproperty.

Indotrading.com merupakan portal yang memiliki visi membantu UKM bukan hanya berjualan untuk market Indonesia saja tetapi juga market luar negeri.

Perbedaan antara kita dengan tokobagus.com atau berniaga.com. kita tidak hanya berbisnis iklan dan kita juga berusaha untuk menciptakan suatu komunitas antar UKM dengan UKM. Jadi, antara bisnis dengan bisnis dapat saling bertransaksi dengan menggunakan fasilitas-fasilitas atau tools-tools yang ada di indotrading. Kita juga memiliki tools untuk pembuatan penawaran secara online sehingga mereka dapat langsung melakukan penawaran.

Nah, kita berusaha untuk membedakan diri yaitu kita didukung oleh sistem berbahasa inggris. Jadi, untuk ke depannya sendiri tidak menutup kemungkinan untuk mengajak UKM dari luar negeri. Coba deh kalau sekarang ini kamu melihat expo-expo, banyak sekali perusahaan Cina yang ekspor di Indonesia. Mereka sendiri sekali ekspor berani untuk membayar hingga ratusan juta. Sementara, mereka memiliki kelemahan untuk berkomunikasi di mana mereka hanya bisa berbicara dengan bahasa cina dan bahasa inggrisnya sangat limited. Saya sampai bingung mengapa mereka melakukan investasi hingga ratusan juta di Indonesia padahal mereka hanya bisa berbicara bahasa Cina dan tidak adanya translator. Mungkin, saya pikir bahwa mereka ingin mencari partner untuk supplier barang mereka. Sementara mereka berharap bahwa di sana ada bisnis owner yang bisa berbahasa Inggris atau Cina sehingga mereka dapat bertransaksi karena adanya komunikasi yang nyambung. Saya sempat ke perusahaan eksponya bahan-bahan bangunan.

Saya melihat disana kalau kita bisa membangun suatu komunitas dimana ada pebisnis yang supplier, dealer, atau importir, eksporter, maka kita dapat mengajak mereka untuk menjadi member kita, yang istilahnya adalah advertiser. Tentu saja mereka akan merasa senang karena kita membantu mereka agar dapat berkomunikasi dengan Indonesian business man atau Indonesian business partner. Jadi, saya memang mendesain Indotrading.com untuk mentarget tidak hanya lokal namun juga luar negeri dengan keyword-keyword SEO yang benar-benar ditargetkan.

Jadi, setiap URL, setiap produk itu memiliki dua deskripsi yaitu Indonesia dan Inggris. Sementara URL untuk setiap produk ada dua, selain untuk SEOnya juga untuk mentarget Indonesia dan luar Indonesia. Sebagai contoh, Cina. Kenapa cina bisa maju dan memiliki expo yang luar biasa? Padahal, dulu Cina dan Indonesia sama-sama miskin. Hal ini dikarenakan ekspor industry kecilnya jalan. orang Cina sendiri sebenarnya memiliki kesamaan dengan orang Indonesia asli, yaitu tidak bisa berbahasa asing.

Pertanyaannya, kenapa Cina memiliki barang yang dapat diimpor oleh semua orang di berbagai belahan dunia? Padahal, kalau kita mengimpor barang-barang dari Cina, kita tidak melihat ada manual dalam bahasa inggris. Tapi, still people buy.
Kelebihan mereka adalah mereka know how to market the product  melalui internet, salah satu media yang paling efektif. Mungkin, kelebihan lainnya adalah karena pemerintahan mereka juga mendukung. Expo-expo oleh pedagang Cina banyak yang dibiayai oleh pemerintah. Jika ada barang yang dikembalikan ke China, tax nya bisa diklaim balik ke pemerintah. Sementara Indonesia kekurangan dari segi dukungan dari pemerintah.

Nomor dua adalah cina memiliki media yang dapat membantu mengeksploitasi produk mereka di luar. Sementara, di Indonesia sampai saat ini belum ada website yang benar-benar mendukung, tidak ada versi bahasa inggrisnya. Di Indonesia, economy growth  bisa mencapai 6% sampai 7% bukan karena ekspor melainkan domestic demand. Konsumsi domestic kita begitu luar biasa. Tapi, yang menjadi pertanyaannya adalah seberapa lama bisa bertahan? Kalau saja kita bisa membantu para UKM dengan membeli oleh-oleh dari daerah tertentu dan diekspor ke luar negeri, who knows?
Saya sendiri dari Medan, di mana Medan itu memang sering ekspor sayuran ke Singapura. Kebanyakan dari mereka (para petani) itu tidak tahu bagaimana cara mengekspor sayuran tersebut karena mereka sendiri tidak mengenal internet. Sementara orang asing yang ingin mengeskpor contoh cabai, lada, atau sebagainya tidak mendapatkan informasi secara lengkap di internet. Sehingga, hal inilah yang menjadi kendalanya.

Kita juga memasang banner-banner di google adsense yang mentarget sektor tertentu seperti agraris dan alat teknik.

Memangnya, sayur bisa dikirim jauh seperti itu?
Bisa. Kebanyakan sayur-sayuran di Malaysia dan Singapura itu diimpor dari medan. Hal ini dikarenakan Medan memiliki letak geografis yang paling dekat. Kenapa tidak bisa? Kita sendiri impor apel dari Cina. Jeruk juga dari Cina. Ya sebenarnya tujuannya adalah perusahaan-perusahaan dapat saling bertransaksi melalui situs kita. Kita ingin dipercaya. Jadi, di Indotrading tidak ada individu-individu yang menjual suatu produk seperti di kaskus, misalnya saya ingin menjual handphone saya sendiri. Ketika anda masuk ke situs kami, maka anda akan mengetahui bahwa “we are company”. Indotrading adalah situs perdagangan di Indonesia untuk membantu para UKM.
UKM yang menjadi fokus Indotrading itu UKM seperti apa ?
Kita sendiri sebenarnya tidak ada spesifik. Hanya saja, kita lebih prefer kepada sektor-sektor barang yang tidak fast moving atau tidak dapat dijumpai di commerce store. Seperti contoh, gadget atau handphone. Itu semua bukanlah target kami.

Namun, kalau untuk fashion sendiri jika ia membuka usaha konveksi baju muslim dalam jumlah besar, nah itu termasuk sebagai target kita. Sementara target kita bukan untuk yang menjual secara satuan karena kita lebih ke produk catalog. Jadi, semua perusahaan yang memasarkan produk di kita, mereka dapat memasarkan produk catalog. Lebih ke yellow pages namun secara online. saya terinspirasi untuk menjalankan bisnis ini karena di Malaysia maupun Australia, buku yellow pages sendiri sudah tidak ada. Tapi, kenapa di Indonesia mereka masih bisa mencetak profit yang begitu fantastis? Saya pernah bertanya kepada sales manager kalau tidak salah mereka bisa menghasilkan profit besar untuk yellow pages sendiri. Jadi, tidak menutup kemungkinan jika ada perusahaan retail seperti menjual komputer dan sebagainya, mereka diperbolehkan untuk masuk ke situs kami. Dan banyak sekali perusahaan seperti alat berat, importir cctv, fingerprint, barcode reader berani bayar puluhan hingga ratusan juta di Yellow Pages. Barang-barang B2B ini kan sulit dicari di ecommerce, sulit untuk kita cari dumptruck atau genset di Tokobagus. Ini lah yang ditarget Indotrading untuk B2B walau tidak menutup kemungkinan juga consumer product seperti produk komputer.

Bagaimana awalnya seorang Handy bisa masuk dan terjun ke dalam bisnis seperti ini ?

Saya sendiri sebelumnya bisnis sudah lumayan lama. Saya sebenarnya founder Jakarta Web Hosting dan Sixdotnet.com (hosting juga) Waktu saya di Australia sendiri, saya juga sudah terjun ke dunia bisnis dan banyak terjun di web hosting dengan market di Australia dan Amerika dimana kita menjual hosting yang konsentrasinya di Web hosting untuk Windows. Jadi, dari sana sendiri saya sudah belajar yang namanya SEO karena kebetulan waktu di Australia, saya lebih maju jika dibandingkan dengan di Indonesia. Saya sendiri awalnya memang sudah tertarik untuk bermain SEO, hingga pada akhirnya saya tekuni. Waktu itu sendiri kompetisinya belum segila sekarang dan masih belum sulit untuk bisa menjadi yang nomor satu di Google. Nah, ketika saya di Australia dan mencoba untuk membuka bisnis, saya sudah menjadi entrepreneur dan quit fulltime job, bisa beli mobil sendiri dan rumah sendiri.

Waktu itu usia berapa ketika keluar kerja?

Sekitar 22 tahun.

Sementara itu, untuk mulai kerja sendiri kapan?
Waktu itu saya kuliah sambil kerja. Jadi, saya pernah bekerja di Commonwealth Bank di Malaysia, saya pernah berpengalaman magang. Sekitar usia 22-23 tahun saya sudah quit job  Jadi, saya sudah fulltime business dan sudah main di SEO khusus untuk hosting. Tapi, saya belum memiliki pengalaman untuk membuat portal. Pada saat menjalankan bisnis hosting sendiri saya memiliki banyak klien dimana mereka berhasil membuat bermacam portal di US atau Australia yang begitu fantastis dan saya perhatikan “wah kok bisa ya?” Jadi, setelah di Australia karena pada dasarnya saya memang berkeinginan untuk mengembangkan bisnis, saya memutuskan untuk pindah ke Malaysia yang saat itu diajak teman, karena di Australia labour cost sangat tinggi.

Oke, balik lagi ke hosting. Bagaimana caranya untuk mendapatkan klien? Dari SEO atau dari mana?

Awalnya, kita tidak memiliki budget dan semuanya sendiri berasal dari SEO. Sementara zaman dulu kompetisinya masih sedikit. Contoh, di google jika anda ingin menjadi nomor satu, anda tidak bisa hanya dengan banyak backlink doang. Namun, siapa yang memiliki original konten untuk pertama kali. jika saya memiliki original konten, namun tidak memiliki backlink, kamu akan merasa kesulitan untuk mengalahkan saya.

Kebetulan, waktu itu saya pioneer dalam windows hosting ASP dot net yang waktu itu ASP dot net masih beta. Sementara waktu saya start, hanya ada sekitar lima company yang juga melakukan start (menjual hosting). Jadi kalau orang googling ASP dot net hosting ya datangnya ke kita, pada saat itu persaingannya tidak sesulit sekarang ini.

Waktu saya pindah ke Malaysia, saya melihat ada sebuah website namanya iProperty  sekitar tahun 2006-2007. Sementara waktu di Australia saya juga pernah melihat property portal namanya realestate.com.au. Saya juga sempat cari rumah kontrakan dan merasa bagus dan jelas sekali mencari dari portal perumahan ini, saya mendapatkan informasi secara detail. Namun, di Indonesia sendiri belum ada.

Dari situlah, saya mulai tertarik dan berpikiran untuk membuat portal realestate.au. hanya saja pada saat itu waktu saya terbatas sekali dengan waktu karena saya masih fokus pada hosting. Namun, ketika saya pindah ke Malaysia dan telah mendapatkan karyawan untuk memanage hosting saya, saya berniat untuk mewujudkan keinginan saya itu dan akhirnya memutuskan bahwa inilah waktunya untuk saya venture into this.

Saya mengecek model-modelnya realestate.com.au dan iProperty, saya combine-combine dan jadinya rumahdanproperti.com. Untuk kuliah sendiri, saya mengambil programming. Tapi, karena di Indonesia saya mendapatkan bantuan, saya jadi lebih ke business development. Namun, memang saya memiliki hobi di coding. Pada saat itu pesaing saya adalah Rumah123.com.
Nah, pertanyaannya mengapa rumahdanproperti bisa maju dan mengalahkan yang lain dengan cepat karena kebetulan saya hoki dan mengetahui apa yang sebenarnya mereka tidak tahu, seperti keunggulan-keunggulan yang saya dapatkan ketika saya di luar negeri terkait SEO atau yang lainnya. Sehingga, rumahdanproperti pada akhirnya berhasil maju dan menyalib berbagai portal property yang lainnya seperti propertykita dan hampir menyamai dengan rumah123 ataupun rumah.com. Sebenarnya, rumah123 sendiri dulu masih dikelolai oleh Sandiaga Uno sebelum dibeli IProperty, SEOnya bisa dibilang parah. Sampai akhirnya saya sempat bekerja di rumah123 untuk memperbaikinya sementara situs saya dibeli sama iProperty, Saya bekerja hampir delapan bulan sebagai marketing manager dan ikut memperbaiki SEOnya termasuk link structurenya. Dan sekarangpun rumah123 bisa menjadi luar biasa karena SEOnya sendiri juga sudah diperbaiki. Dulu memang propertikita atau yang lain sebagainya tidak mengetahui SEO sehingga trafficnya kurang begitu bagus.

Biaya operasionalnya website online property kenapa bisa besar ? Digunakan untuk apa saja?
Untuk di indotrading atau di rumahdanproperti, biaya operasional sendiri besar di bagian sales. Hal ini dikarenakan kita hunting for content. Untuk saya sendiri, content saya adalah barang dagangan orang. Sementara dulu ketika di rumahdanproperti, kontennya adalah property orang. Kita juga harus mencari content ke agen-agen. namun, dulu agen-agen tersebut seringkali menolak. Beruntung, di zaman sekarang ini sudah cukup maju dan mereka juga sudah mulai mengerti. Hanya saja, kendalanya mereka tidak tahu bagaimana caranya memasukan produk, training sementara itu semua free of charge sehingga dapat dikatakan hal inilah yang menghabiskan waktu, tenaga, biaya serta edukasi kenapa kita lebih bagus daripada koran. Dulu, koran Kompas memiliki iklan property yang banyak sekali. Namun, sekarang masyarakat sendiri lebih memilih untuk menggunakan internet karena jauh lebih efektif dan iklan di koran tersedot banyak sekali.

Jadi, kenapa mereka (iProperty) beli dua karena mereka memonopoli market. IProperty sendiri adalah perusahaan terbuka di Australia yang memiliki dana yang begitu besar dengan bertujuan untuk memonopoli market. Jadi, mereka memberitahukan agen kalau mereka ingin masuk ke I-property, mereka membayar untuk satu kali fee akan mendapatkan dua listing. Sementara jika ke kompetitor lain, agen hanya akan mendapatkan satu listing saja.

Apakah nilai akuisisinya bisa dibuka?

Bisa dilihat di press releasenya Saya menjual Rumahdanproperti senilai 500 ribu AUD kalau dirupiahkan mencapai Rp 5 milliar. Sementara untuk rumah123 nilainiya bisa dilihat di sini

Jadi, bagaimana strategi untuk membesarkan market property?

Sebenarnya, kalau saya mau bilang pada saat itu ada hoki. Mungkin, saya memiliki keunggulan di bidang SEO dan programming. Jadi, saya mengcombine dua skill tersebut sehingga saya bisa menang dari yang lain. Hal ini lantaran rumah123 bukanlah founder yang mengoperasikan bisnis, melainkan hanya investor. Mereka mencari orang untuk menjalankannya. Sementara, saya mungkin pada saat itu adalah satu-satunya founder yang terjun langsung ke lapangan. Sebenarnya, kunci utama adalah fokus pada bisnis online. sementara hosting benar-benar saya tinggalkan untuk mengejar visi dan misi membangun bisnis ini. sebenarnya, kalau I-property tidak masuk, kemungkinan besar saya tidak akan menjualnya. Saya sendiri menjualnya karena saya merasa takut kalau sudah ada pemain asing yang masuk. Hal ini dikarenakan dalam dunia portal, apalagi untuk bagian classified property sendiri hanya ada satu nama saja. Nomor satu adalah yang orang cari. Di Australia sendiri sudah terbukti, dimana yang berada di nomor dua dan tiga itu mati karena hanya pegang 10-20% market share. akhirnya, saya memutuskan untuk menjual secara penuh kepada mereka karena saya tahu saya tidak akan menang melawan mereka sementara modal mereka luar biasa besar. Rumahdanproperti saat itu juga belum untung dan selama setahun saya tahan kerugian pakai kantong sendiri.

Pada saat itu, cara memasarkan rumah dan property selain SEO bagaimana?
Sebenarnya, saya sendiri bukan orang social media. Kita tidak menggunakan social media untuk mempromosikan rumahdanproperti. Jadi, kita benar-benar memfokuskan ke SEO. Ketika orang menjual rumah di daerah tertentu, kita make sure bahwa kita adalah yang nomor satu.
Pemakaian social media hanya automated posting, setelah memasukkan listing bisa otomatis diposting ke social media. Tetapi tidak ada orang yang benar-benar memaintain konten social media.

Waktu itu, Handy single founder ya?

Iya, single founder. Dulu, di rumah dan property, tim kita sedikit sekali karena dulu dengan limited cost. Waktu itu, di Rumahdanproperti hanya lima orang. Sementara salesnya sendiri ada dua orang, dua admin dan saya sendiri. Bisa dijual 5M setelah satu tahun saya dirikan bisa dibilang karena hoki.

Apa yang bisa menentukan harga akuisisi bisa seperti itu?

Sebenarnya, tergantung dari buyer sendiri. Ketika mereka sudah greedy dan mereka benar-benar mau masuk market, mereka pasti berani membeli dengan harga yang tinggi. Seperti di luar negeri, value product sebenarnya tidak fantastis. Facebook akuisisi instagram di mana sebenarnya belum profit, valuenya berdasarkan projection, berdasarkan greedy, foundernya Facebook merasa ketika melakukan akuisisi bisa add value.

Iproprety juga perusahaan Tbk, ketika mereka melakukan akuisisi rumah123 dan rumahdanproperti dengan harga fantastis, sharenya malah naik, karena investor senang, mereka masuk indonesian market, karena duitnya juga datang sendiri dari investor dan mereka tidak keluar uang dari cash sendiri. Mereka sebelumnya no 1 di  Malaysia dan no 1 di Singapura, Indonesia punya market jauh lebih besar daripada Malaysia dan Singapura. Ketika mereka create news ini, investor senang dan mengeluarkan uang puluhan miliar bagi investor Australia itu kecil.
Jadi, ketika kamu bertanya mengapa valuenya bisa seperti itu karena saya membuka harga sekian. Kebetulan, mereka memang berkeinginan untuk membeli.

Apa dia tidak menanyakan user anda ada berapa?

Tentu saja ada. Mereka lakukan due dilligence Pasti mereka memiliki alasan mengapa mereka berani untuk membeli seharga 5M. Kalau mereka merasa bisa membuat sendiri kenapa harus beli punya kamu ?
Karena memang pada saat itu organic traffic saya bagus sekali. Sementara untuk rumah123 sendiri, dulu purely paid traffic, Rumah123 melakukan invest besar-besaran di paid traffic. Dari dulu, rumah123 itu bisa mencapai peringkat satu karena purely paid traffic. Oleh karena itu, dana dari investornya besar karena mereka benar-benar andalkan paid traffic dengan banyak orang yang telah ingat dengan brand mereka karena dari paid traffic. Kebetulan, waktu itu data mereka yang paling lengkap juga. Jadi, kenapa mereka membeli rumahdanproperti karena organic traffic saya memang bagus. Sementara rumah123 dibeli dengan share (saham). Dimana 10M secara tunai, sisanya 35M dengan saham IProperty. Jadi, founder menerima 10M secara cash, sementara sisanya dalam bentuk saham. Tapi, 35M zaman dulu itu 20 sen per share sementara sekarang 1,2 per share. Tinggal dikali saja untungnya.

Waktu setahun membangun rumah dan property, apa lagi resepnya selain fokus dan SEO?
Jujur saja, waktu saya membangunnya pertama kali saya merasakan jatuh bangun sampai saya merasa frustasi dan ingin menutup karena biaya operasionalnya yang sangat besar, saya juga mengeluarkan sedikit biaya adwords. Hanya saja dengan bermodalkan nekat dan ambisi saya untuk mengalahkan rumah123 benar-benar membuat saya termotivasi. Passion saya ingin mengalahkan rumah123 karena pada saat itu fight di marketnya juga lumayan kencang.

Dulu, ketika kita bertemu dengan agen property, banyak yang bilang “saya sudah masuk rumah123”. Sehingga, saya berusaha untuk mencari apa yang tidak dimiliki oleh rumah123.  Kita memperbaharui tools-tools yang ada di website kita untuk lebih bisa friendly, powerful. Salah satu contohnya adalah tool ketika mereka ingin memasukan property, mereka dapat langsung mempostingnya ke Facebook mereka sendiri. Jadi, kita create banyak tools untuk fight.
Saya sendiri tahu bahwa kita harus menjadi nomor satu untuk dapat survive di market. Kalau kamu berada di nomor dua, tentunya orang merasa malas untuk memasukan listing. Sekarang banyak sekali seperti tokobagus.com, berniaga.com. tentunya kita mencari yang paling bagus bukan? oleh karena itu, orang pun lebih memilih kedua situs tersebut karena mereka berada di nomor satu dan dua dan telah masuk juga ke televisi. Sama juga seperti property. Karena keinginan saya yang kuat sekali untuk mengalahkan Rumah123, saya kerja tidak mengenal waktu, termasuk Sabtu dan Minggu.

Jadi, benar-benar sendiri ya mengerjakannya? Dan dengan dana sendiri. Berbeda dengan Rumah123 yang ada investor di belakangnya.

Ya, sendiri. Tapi, waktu itu saya sempat melakukan kesalahan dimana saya tidak melakukan networking. Saya tidak berkomunikasi. Saya juga tidak membaca koran lokal indonesia karena saya baru balik dari Australia dan tidak tahu perkembangun internet entrepreneurship di Indonesia. Sementara saya pulang ke Indonesia sekitar tahun 2009 dan membuat rumahdanproperti pada tahun yang sama dan tahun 2010 memutuskan untuk menjualnya bersamaan akuisisi Rumah123 oleh iProperty. Tahun 2011, saya bekerja dengan rumah123.

 Jadi, menjual rumah dan property terlebih dahulu baru bergabung dengan rumah123 ya?

Ya, saya menjual terlebih dahulu baru bekerja di rumah123.

Lalu, rumah123 dibeli setelah rumahdanproperty?

Tidak. Waktu itu, keduanya dibeli secara bersamaan. Saya ditawari untuk kerja oleh foundernya karena dia melihat traffic saya yang begitu bagus. Jadi, saya pun memutuskan untuk bekerja karena saya sendiri ingin mengetahui cara membuat portal karena menjalani bisnis portal dan hosting tentu jauh berbeda. Untuk menjalani hosting,  people need your service, jadi ketika anda mau jual tidak perlu mengalami kesulitan. Yang penting kamu ada harga lalu orang mau beli barang kami. Sementara untuk menjual portal service akan sangat susah apalagi jasa iklan. Dan kebetulan yang fighting di sektor property bukan hanya rumah123 ada banyak,  propertikita, rumahku.com, Urbanindo. Rumahku.com juga punya dana lumayan.
Jadi, kalau kamu menjual portal atau iklan, tentunya kamu harus membuat traffic kamu tinggi dulu bukan? jadi, itulah yang menjadi kendala utamanya. Oleh karena itu, saya pun memutuskan untuk belajar di IProperty sendiri untuk mempelajari bagaimana teknik membuat portal untuk bisa mendapatkan uang hingga milyaran rupiah. IProperty sendiri adalah kisah sukses yang berhasil mendapatkan uang milyaran dari portal sendiri.

Ada yang bisa dishare resepnya mereka?

Resepnya sendiri yang pertama adalah networking. Kemudian, PR (Public Relation). Jadi kita harus sering-sering broadcast news kamu, share story kamu dan tentu juga SEO.
Dan yang saya tahu mereka memang memiliki dana yang tidak terbatas. Sementara dana sendiri adalah sektor penting karena ketika mereka ingin build brand, mereka memiliki dana yang besar sekali. Mereka campaign di adwords saja ratusan juga setiap bulan. Saya juga belajar banyak tentang manajemen, leadership, KPI, saya juga belajar bagaimana cara fokus di traffic kita.

Passion anda sendiri sebenarnya apa?

Passion saya sendiri sebenarnya di traffic. Saya sangat suka untuk mengembangkan portal. Walaupun sebenarnya ketika saya menjual rumahdanproperti, saya berpikiran untuk keluar dan tidak berada di dunia portal lagi dan bisnis konvensional saja, jadi orang biasa lebih gampang. Impor barang dari Cina terus trading, finding buyernya lebih gampang.
Tapi, saya sudah mencoba, saya punya dana untuk melakukannya, teman-teman saya juga banyak yang di bisnis trading konvensional, tetapi waktu saya mau masuk ke area itu, saya merasa ada sesuatu yang hilang dan tidak sesuai dengan hobi saya. Jadi, saya tidak memutuskan untuk berdagang namun balik lagi di portal.

Sebelum saya membuat portal sendiri, saya tahu resikonya bahwa satu, dua atau tiga tahun saya tidak bisa hidup hanya dengan mengandalkan hal tersebut. apalagi dengan kompetisi yang semakin banyak. Berbeda jika kita berdagang, profitnya bisa langsung dapat. Mau tidak mau, kita pun harus selalu berinovasi secara terus-menerus karena dunia IT adalah dunia yang kejam. Apalagi dunia web, di mana semua orang dapat memiliki web hanya dalam waktu lima menit saja lalu create content yang sangat bagus, that’s it kompetisi bermunculan.

Tetapi saya ingin coba bagaimana bisa membuat portal yang sangat bagus, ada passion yang membuat saya tetap di sana. Apalagi, Indonesia memberikan opportunity yang besar di sektor ini karena pemain-pemainnya tidak begitu banyak. Untuk mencari orang-orang yang benar-benar berpengalaman di dunia IT juga sulit. Kebanyakan mereka kuat di dunia programming namun tidak di SEO. Kalau di combine pun kadang tidak cocok, belum lagi designnya. Banyak sekali pemain di bisnis ini yang mencoba namun gagal karena untuk mencari orang-orang yang passion dan capable di bisnis ini susah sehingga mereka hire programmer yang asal coding tanpa lihat SEOnya, kontennya, keywordnya .


Bisa dijelaskan bagaimana cara mendatangkan traffic?
Saya sebenarnya lebih fokus di SEO dan kurang fokus di social media karena saya bukan orang social media. Saya jarang menggunakan facebook, twitter. Jadi, saya benar-benar fokus di satu sisi. Saya tidak mendistribusikan waktu saya kadang-kadang di social media atau kadang-kadang di SEO. Jadi, saya benar-benar fokus dan memperkuat skill saya di SEO.

Apakah SEO-nya white hat Tidak memakai yang black sama sekali?

Ya, white hat. Perbanyak keyword dan konten tentunya. Jadi, itu benar-benar menghabiskan energy yang sangat banyak. Ketika kamu telah menggunakan hal tersebut, maka traffic yang datang akan lebih signifikan daripada Facebook dan twitter. Menurut saya, sekali kita post di twitter atau facebook, mungkin 100 orang memang baca. Tapi, setelah itu habis karena akan tertimpa dengan post-post anda yang baru. Apalagi, untuk twitter. Sementara, untuk SEO itu bersifat permanen. Kamu sudah bisa mencapai nomor satu, lalu kamu bisa santai dan traffic pun akan datang dengan sendirinya.

Bisa memberikan contoh terkait keyword di rumahdanproperti atau indotrading ?
Kalau di indotrading sendiri, kita fokusnya pada keyword distributor, grosir, supplier, vendor. Termasuk keyword long tailnya. Misalnya, distributor batu bara di Indonesia atau keramik, importir baju muslim, supplier baju muslim. Kalau di rumahdanproperti keywordnya rumah dijual di Kemang, rumah dijual di Pantai Indah Kapuk, rumah dijual di Kelapa Gading dan sebagainya.

Berarti kata tersebut dimasukkan ke setiap listing di keyword yang tadi?

Ya kita menaruh link dengan keyword tersebut yang ditaruh di websitenya.

Waktu menjalani rumah dan property selama satu tahun itu, biasanya aktivitasnya itu seperti apa? Apakah sehari meeting tiga kali atau lima kali?

Waktu itu saya melakukan banyak sekali kesalahan. Background saya adalah programmer. Waktu itu, dengan limited cost, kita tidak hire programmer. Ada satu, hanya saja dia masih terbilang junior jadi tidak bisa diharapkan begitu banyak. Jadi, saya itu menghabiskan waktu untuk programming. Saya build system from zero jadi butuh waktu untuk membenahi bugs. Untuk bisnis developmentnya kami kerjakan setelah programmingnya lumayan live. Saya kebetulan konsentrasi di bidang sales. Jadi, tugas saya adalah untuk mencari agen, content. Jadi, selama setengah tahun itu saya full untuk programming. Setelah oke, enam bulan terakhir saya baru cari sales untuk membantu menjual banner dan membership. Jadi, untuk meeting, networking ataupun public relation sama sekali tidak ada. Oleh karena itu, ketika saya masuk ke rumah123 atau I-property, saya tahu itu salah. Makanya sekarang saya undang Startupbisnis.com untuk membantu saya expose.

Lalu, bisa bertemu dengan iproperty bagaimana ceritanya?

Mereka yang menghubungi saya karena memang situ rumahdanproperti alexanya lumayan tinggi, sehingga cukup visible di mata mereka, dari Google adplanner, effective measure juga kelihatan situs saya nomor 3. Nomor 1 Rumah123, nomor 2 Rumah.com yang dibeli propertyguru dari Singapura baru Rumahdanproperti.

Saya tahu listing perumahan di tokobagus itu besar sekali.

Iya, benar sekali. Waktu itu saya sendiri sempat merasa kesulitan ketika saya masih di rumahdanproperti, saya mengalami persaingan yang berat dengan tokobagus dan juga berniaga.com. tapi, kita mengatakan bahwa kalau listing di tokobagus itu kebanyakan orang tidak mencari rumah. Kita niche. Itulah keunggulan kita. Orang datang ke kita benar-benar mencari rumah. User datang ke kita, kita jual rumah, desainnya juga sudah bagus. Beda sekali dengan tokobagus yang pada saat itu masih berantakan. Namun, sekarang tokobagus telah mengalami kemajuan dan lebih bagus. Hanya saja, ketika kamu mencari rumah di Tokobagus, kamu merasa distracted karena ada orang jualan keris, baju dan banyak barang lainnya. Kamu kalau mencari rumah di Tokobagus resultnya juga tidak diverifikasi. Jadi, pasti timbul pertanyaan apakah itu benar atau tidak. Sementara kalau kita tidak perlu diverifikasi, namun terdapat nama agen. kita sendiri fokus pada agen dan bukan pemilik, agen seperti Century atau Ray White dan kalau di Rumahdanproperti semuanya rumah.

Kenapa fokusnya pada agen bukan pemilik?

Simple. Menurut saya, kamu fokus pada pemilik itu tidak akan berhasil. Pertama, kita mau lihat di negara yang lebih maju seperti di Australia dan Malaysia dimana sudah jarang sekali pemilik yang menjual rumah secara langsung. Kalau melihat dari segi ekonomi, kita tentunya mau semua dijual oleh agen property karena taxnya jelas, pemerintah juga dapat tax. sementara buyer kalau dari pemilik langsung, anda juga pasti merasa takut kan? Kalau misalnya tidak tahu apa-apa, bisa jadi anda terkena kasus penipuan, siapa yang urus surat-suratnya? Agen property sudah seperti escrow account di dunia online. Jadi, mengapa kita mendukung itu karena kita ingin membangun ekonomi yang sehat dan kita tidak mendukung penjual menjual rumahnya secara langsung. Kalau rumah dijual oleh pemiliknya langsung, maka ekonomi tidak akan jalan. jadi, anda tidak fokus di bisnis namun di jual rumah saja, sangat menghabiskan waktu.

Waktu menjalani usaha di rumah dan property, pendapatannya dari mana?

Ya, tidak ada revenue. Tapi, setelah berjalan selama delapan sampai sembilan bulan, kita mulai ada pendapatan. Hanya saja masih tidak bisa menutup operational costs. Kita sudah menjual banner, membership kita juga sudah lumayan banyak. Waktu itu, saya menjual membership sekitar 200 sampai 300an member dari agen. Sekarang, indotrading, business modelnya juga sama dengan rumahdanproperti dimana kita charge membership fee. Dulu, membership adalah agen sementara saat ini di Indotrading membershipnya untuk bisnis. Jadi, ketika perusahaan menjadi member kita, maka kita akan memberikan advantage kepada mereka.Misalnya listing mereka akan tampil pertama, atau mereka mendapatkan fitur-fitur website. Mereka juga bisa melihat jumlah statistic, jumlah telepon dan email masuk. Jadi, mereka bisa mengukur keefektifan dalam promosi.

Ada lagi yang dapat dishare tentang strategi untuk para pembaca?

Saran saya adalah fokus, memiliki misi yang jelas. Saya tahu bahwa semua orang pastinya bisa melakukan start strong. Namun, jarang sekali yang bisa finish strong.  Ketika kita memulai bisnis, kita biasanya masih bersemangat mempunyai visi, ingin membuat portal atau sebagainya. Startnya strong, kasih tahu semua orang, kerja siang malam. Tapi, ketika sudah setengah jalan, ketika sudah tahu sulitnya bleeding terus, sudah setengah tahun, kita pasti merasa bimbang. Kebanyakan orang gagal disana. Jadi, pada awalnya start strong, namun pada finishnya slow hingga akhirnya mati. tapi, jika kendalanya di modal, kita bisa mencari investor.

Apa ada advice yang lain?

Ya saya pikir adalah passion. Kalau passion kamu memang di dunia internet, ya go fight! Tapi, kalau bukan jangan dipaksakan karena nantinya kamu akan menyerah. Saya sendiri mengalami bisnis yang paling sulit adalah bisnis mendirikan portal karena tidak ada barang yang dijual. Kalau anda ingin mencari advertiser, itu sulit sekali karena pengartian yang terlalu besar. Lalu, kita juga berkompetisi dengan media cetak. Kebanyakan di Indonesia, kendalanya sendiri adalah ketika menjual banner.
Saya ingin share sedikit karena dulu saya juga menjual banner-banner ke perusahaan-perusahaan. Mereka lebih memilih untuk mengeluarkan uang untuk majalah. Saya sendiri tidak tahu apa alasannya padahal majalah sendiri terbilang baru dan jumlah pembacanya lebih sedikit. Namun, ternyata mereka lebih memilih untuk mengeluarkan uang untuk magazine karena dapat dipegang secara fisik.

Sementara jika mereka mengiklankan di internet, mereka tidak bisa melihat karena banyak juga terjadi penipuan. akhirnya, itu yang menjadi penyebab rusaknya pasaran internet. Jadi, itulah alasannya mengapa mencari advertiser untuk banner sangat sulit. Apalagi, kalau anda ingin menjualnya dengan harga yang mahal. Akan tetapi, kemungkinan kalau anda ingin menjualnya dengan harga murah, kemungkinan ada yang mau. tapi, disinilah anda akan merasa serba salah. Memasang harga mahal, belum tentu ada yang mau. namun, kalau anda memasang harga murah, pasti itu tidak akan cukup untuk menutupi operasional. Jadi, itulah kendalanya dan menurut saya pengalaman yang paling sulit untuk menjual banner apalagi untuk menjual ke developer. Mereka lebih memilih majalah. Padahal, majalahnya sendiri bisa dibilang tidak bagus. Namun, kenapa mereka mau? ini dikarenakan saat sales menjual kepada mereka, mereka membawa majalahnya. Jadi, mereka pun dapat melihat bahwa disana ada banyak iklan. Sementara kita mau bawa apa? Laptop? Itulah yang menjadi perbedaan di luar negeri. Di sana, orang pun lebih memilih internet.

Untuk indotrading sendiri, ada yang mau ditambahkan ? Terkait ajakan untuk UKM.

Saya sendiri sebenarnya ingin mengajak UKM-UKM, terutama untuk yang berpotensi untuk menembus pasar eksport ada baiknya jika bergabung dengan indotrading. Hal ini dikarenakan indotrading adalah satu-satunya website ecommerce yang didukung oleh dua versi bahasa. Kita benar-benar SEO. Kita juga melakukan advertise di market global yang ingin mencari Indonesian partner. Jadi, kita adalah kumpulan-kumpulan komunitas bisnis dari semua perusahaan-perusahaan khusus trading. Jadi, ke depannya kita juga akan berusaha untuk mencari partner dari luar negeri yang juga ingin mencari rekan-rekan bisnis dari Indonesia.

startupbisnis







 

Rabu, 22 Februari 2012

Tetap Fokus dengan Gangguan

Sebagai seorang entrepreneur sekaligus pemimpin, tentu sangat penting untuk  menahan diri Anda dari melakukan hal-hal yang kurang berkontribusi bagi kemajuan usaha Anda. Misalnya, Anda berbicara terlalu panjang dan bertele-tele dalam sebuah rapat, mengerjakan pekerjaan karyawan yang kurang kompeten, dan sebagainya.

Entrepreneur harus mengetahui prioritas. Lakukan hal-hal yang penting dan singkirkan yang lain. Jika Anda merasa sebagai salah satu entrepreneur yang merasa memiliki masalah yang sama, apa yang Anda bisa lakukan untuk mengatasi ini?

Saran umum yang bisa dicoba ialah dengan memfokuskan pikiran dan tenaga pada masalah yang memang harus dihadapi. Akan tetapi kita sering menemui kenyataan bahwa semakin lama kita berkonsentrasi secara terus menerus pada satu atau beberapa permasalahan, semakin tinggi stres yang kita rasakan. Demikian juga beban yang dirasakan dalam pikiran. Terkadang terlalu fokus pada satu isu membuat kita tak bisa tidur nyenyak di malam hari, padahal tak seharusnya kehidupan kita dihabiskan untuk pecahkan satu masalah saja.

Karena itu, jika Anda merasa sulit untuk berkonsentrasi, jangan berusaha terlalu keras untuk menahan diri agar etap konsentrasi. Caranya? Cobalah temukan gangguan.

Gangguan sering dianggap sebagai biang keladi dari yang memperlambat kecepatan kita dalam menyelesaikan permasalahan. Namun jika digunakan dengan tepat dan sesuai, ia akan menjadi alat yang berguna untuk memfokuskan kembali pikiran Anda pada hal-hal yang produktif. Contohnya, agar Anda terganggu saat berbicara terlalu banyak dalam sebuah rapat, fokuskan pikiran Anda pada hal lain seperti menyimak. (Diadaptasi dari “How to Teach Yourself Restraint” oleh Peter Bregman)